Menikmati Keunikan Tuktuk – Pulau Samosir
USAI berwisata ke Air Terjun Sipiso-Piso, perjalanan
kami lanjutkan ke Danau Toba lewat Tongging. Kaki ini rasanya sudah
gatal pengen cepat2 nyampe di danau Toba dan pengen nyeburrrrr ke air
danau. Apalagi dari ketinggian si Piso-Piso, kami sudah melihat indahnya
pemandangan Danau yang dulunya adalah Gunung Toba. Mobil kami laju
dengan kecepatan ‘nyantai’. Maklum, kami tidak mau melewatkan momen demi
momen pemandangan indah. Tangan gue tidak pernah berhenti mengabadikan
pemandangan itu lewat kamera digital Lumix DMC LX3.
Nggak nyampe 30 menit mobil sudah nyampe aja di Desa Tongging. Adem
banget! Danau-nya tenang, penduduknya juga tenang. Di pinggir danau gue
melihat beberapa warga sedang sibuk mengambil ikan Pora-Pora (pake
jala). Konon katanya ikan Pora-Pora hanya berada di Danau Toba. Di Danau
atau sungai lain tidak ada. Maka dengan penasaran yang membuncah, gue
pun turun ke danau untuk melihat dan menangkap ikan Pora2 yang sangat
lincah banget gerakannya.
Ikan
Pora2 ukurannya kecil. Ya, mirip kayak anak ikan mujair gitu deh. Kalo
menurut candaan warga setempat, ikan Pora2 adalah ikan KUTUKAN! Karena
ukurannya nggak bisa besar. Hanya segitu2 saja sampai tua-nya. Ikan
Pora2 juga sering dijadikan menu makanan. Ikannya bisa digoreng, di
sambal, di arsik juga mantap. (sangkin penasaran, waktu makan di rumah
makan, gue langsung pesan ikan Pora2 untuk mencicipin kelezatannya.
Ternyata rasanya mirip kayak ikan teri Sibolga)
Puas bermain2 dengan ikan Pora2, perjalanan kami lanjutkan ke
Tuktuk-Pulau Samosir. Gue pikir, tadi kami sudah nyampe di Danau Toba,
berarti perjalanan berhenti sampai disitu saja. Eh, ternyata perjalanan
masih sangat panjang dan melalui jalanan yang terjal dan berliku2. Desa
Tongging yang kami singgahi hanyalah ujung dari bagian Danau Toba.
Sementara Tuktuk atau Pulau Samosir masih jauh lagi. Letaknya juga di
tengah Danau Toba..
Alamaaaakkkkk….!!!!
Mobil dilaju dengan kecepatan ‘nyantai lagi’. Kali ini bukan karena
pengen mengabadikan pemandangan. Melainkan karena di kanan kiri jalan
sangat membahayakan. Sebelah kiri jurang yang di bawahnya Danau Toba.
Sedangkan di sebelah sisi kanan adalah tebing-tebing bebatuan yang rawan
longsor. Kebayang saja kalau perjalanan yang kami tempuh disaat musim
hujan. Selain jalanan licin, juga khawatir kalau bebatuan longsor dari
atas tebing lalu menimpa mobil kami…oh, noooo..!!! (and thanks God semua
berjalan lancarrrrr..!!)
Kami melintasi beberapa desa yang sejujurnya sulit gue hafal satu
persatu. Yang pasti perjalanan kami tempuh dengan penuh kebingungan.
Maklum, disepanjang mata memadang kami banyak menemukan kuburan-kuburan
dengan bangunan yang menjulang tinggi. Konon kata si supir(org Batak),
monumen kuburan yang dibangun dengan megahnya melambangkan sebuah
‘kredibilitas’ pemilik kuburan. Bahkan banyak warga yang rela membangun
kuburan dengan megahnya demi menghormati leluhur (orangtua) mereka yang
meninggal. Meski kehidupan dan juga rumah mereka terlihat begitu
memprihatinkan. Tapi mereka rela membangun kuburan megah untuk sebuah
penghormatan pada orangtua yang meninggal…. Begitulah tradisi!
Setelah
menempuh perjalanan sekitar 5 jam, akhirnya kami pun nyampe di Tuktuk,
Pulau Samosir. Hari sudah gelap, karena jarum jam menunjukkan pukul
21.00 WIB. Kami langsung mencari penginapan (cottage) disekitar Tuktuk.
Berhubung karena malam hari, kami tidak bisa melihat keindahan
pemandangan lagi. Semua terlihat gelap dan menyeramkan….dibenak kami
masih terbayang deretan kuburan-kuburan yang kami lewati sebelumnya.
Ditambah lagi gue bisa melihat mahluk-mahluk di dunia lain….Argghh!!!!!
Perut lapar, kami cari makanan di kafe-kafe yang ada didekat hotel.
Ya, kalo di Bali, kafe-kafe kecil tersebut banyak ditemukan dikawasan
Poppies di Bali. Kami langsung pesan makanan yang panas dan pedas. Tapi
sayang yang tersedia hanya INDOMIE REBUS dan SOTO AYAM saja! Minumnya
teh manis panas dan beberapa minuman jus abal-abal (rasanya nggak
nendang!)
Kalo dilihat dari jenis makanan yang kami makan, tentu harganya tidak
akan melambung tinggi mahalnya. Tapi dasar orang daerah yg suka
memanfaatin tamu yang datang, mereka langsung memasang tarif makanan
yang cukup mahal. (sekitar 70 ribu saja!) meski, ngedumel, kami langsung
bayar dan kembali ke Hotel langsung tidur!
Tuktuk atau Danau Toba dulu terkenal dengan udara yang cukup dingin.
Tapi kemaren, udara dingin itu sudah tidak terasa lagi. Malah gue
kegerahan. Wajar kalau akhirnya gue membuka baju saat tidur….maaf kurang
adem sih..!!!
Wes ewes ewes..Bamblas angine kemane….!!!!!
KEESOKAN PAGI HARINYA…
Kami langsung menuju resto untuk breakfast. Mohon maaf nih,
breakfast-nya nggak layak direkomendasikan. Cuma nasi goreng, nasi putih
dan soto. Standart bangetttttt…!!! rasanya juga nggak jelas! Hambar!
Kayaknya lebih nendang masakan gue deh!. Nggak apa-apa deh, yang penting
mengganjal perut dulu…. trus, kami lanjutkan jalan2 disekitar cottage
yang bujubuneeee…indah banget! Kami terkagum-kagum dengan keindahannya.
Suasana sangat tenang dan tidak ada gangguan kalo mau bersemedi, mau
relax dan mau menenangkan diri. pemandangan disekitar cottage begitu
memukau (foto2 sudah saya posting di facebook).
Tapi, bagi gue yang memiliki jiwa petualangan, tempat adem dan tenang
seperti ini hanya bisa gue tempati nggak lebih dari 2 hari. Kalo lebih
dua hari mungkin gue sudah mati gaya dan bisa Amnesia . maklum, berada
di kawasan sepi seperti ini,nggak ada kafe dan tempat2 yang layak
dikunjungi lagi membuat otak gue bisa mandeg untuk berkarya.
Puas memoto keindahan Tuktuk, kami lanjut ke kawasan lain. Ke kawasan
menjual souvenir dan ada beberapa makam LELUHUR yang katanya sangat
bersejarah dan kramat (bukan kramat Jati ato Kramat raya ya…) ada juga
aktraksi patung menari yang disebut SI GALE-GALE… ya, kayak patung orang
jawa yang kepalanya goyang-goyang gitu. Tapi kalo patung si Gale-Gale
patung yang tangannya menari2 (manortor-istilah Bataknya). Trus kalo
kita mau menari bareng si patung juga boleh. Asal, usai nari kita ngasih
uang sekedarnya sebagai wujud partisipasi… hmm… seru juga.
Hanya saja, sebelum masuk ke kawasan tersebut, gue sempat kesal sama
seorang bapak yang ngaku2 sebagai GUIDE. Dengan senyum SOK RAMAH
menyamperin kami, minta menjadi guide ke kawasan jual souvenir dan
patung si Gale-gale. Dengan logat Batak sekental susuk cap ENAK! Si
bapak bilang begini…
“mau di pandu nggak? Biayanya 50 ribu saja…”
Karena dulu (duluuuuuuu banget..waktu masih SMA ato SMP gue juga
lupa), gue pernah ke Tuktuk dan ternyata daya ingat gue masih tajam
setajam SILET!. Gue pikir, ngapain pake pemandu wong jaraknya Cuma satu
pengkolan doang… buang2 uang saja 5o ribu ngasih ke si bapak itu..
Eh, bener saja.. nggak nyampe pada langkah ke 100, kami sudah nyampe
ke kawasan jual SOUVENIR. Anehnya kawasan ini dari taon sebelum masehi
sampe taon 2010 yang dijual itu dan itu saja. Nggak perubahan,
perkebangan dan nggak ada inovasi baru. MONOTON!!!! Kreatif dong
ITO..LAE….!!!!!
Karena yang dilihat nggak ada yang menarik (menurut gue ya…),
akhirnya kami Cuma singgah sebentar, kemudian nyari tempat yang layak
buat ngopi-ngopi sambil buka laptop. Pengennya sih update cerita
perjalanan. Tapi apa daya, internetnya nggak connected!
Ada kisah seru juga sebelum meninggalkan TUKTUK.
Waktu mau ke warung kopi (catat! Warung kopi beneran bukan kafe),
mobil kami parkir dengan manisnya. Tapi langsung dihadang opung (nenek)
yang sedang asyik nyirih (makan sirih) dibawah pohon rindang. Gue kaget
aja! Kirain si nenek patung orang2an. Eh nggak taunya masih punya nyawa.
Dia bilang begini…(setelah diartikan dalam bahasa Indonesia..)
“ngapain mobil ditarok disitu?”
“Mau parkir inang…”
“ooo….”
Trus, nggak berapa lama kami pun masuk ke warung Kopi yang hanya
bener2 jual KOPI saja. Tidak ada makanan lain yang dijual sebagai teman
minum kopi. Parah banget bukan? Tidak kreatif!
Usai minum kopi, mobil yang kami parkir ditodong uang parkir sama si
Opung! Dengan lantang dan mirip jagoan tahun 60-an (beda tipis dengan
Leila Sari gitu deh gayanya) si Opung minta uang parkir sebesar
rp.10.000.. busyettttt…!!! mengalahkan Grand Indonesia nih ongkos parkir..
Akhirnya supir kami ngotot pae bahasa Batak, yang artinya, si supir
menanyakan surat parkir si opung. Dia nggak berkutik… edan…!!!! mental
penduduk setempat perlu di reformasi deh!!!! Mental PREMAN semua..!!
Pukul 01:00 WIB
Kami meninggalkan TukTuk -Pulau Samosir, dengan naik Ferry menuju
Parapat. Ya, penyeberangan dari Pulau samosir ke Parapat memakan waktu
45 menit. Nyampe Parapat, akmi langsung cari makan. Perut sudah
kriuk-kriuk…lalu mobil kami laju meninggalkan DANAU TOBA menuju Pematang
Sianta,Tebing Tinggi dan mendarat di Hotel JW.Marriot Medan…
Perjalanan yang cukup menarik bagi gue. Berada di Tuktuk dan Parapat
membuat gue sadar, kalau masing-masing daerah yang gue kunjungi punya
tradisi dan kebiasaan beda-beda. Kalau di Bali penduduknya sadar bahwa
sumber mata pencarian mereka lebih dominan di dunia pariwisata, sehingga
mereka selalu menghormati, melayani Turis yang datang ke Ranah mereka.
bahkan mereka bisa membuat pengunjung betah berlama2 di Bali. Beda
dengan kawasan Danau Toba, Pulau Samosir yang dimata gue masih bermental
Preman! Belum menyadari kalau kawasan mereka adalah kawasan Wisata.
Sehingga mereka sering memalak dan berlaku kasar terhadap tamu yang
datang. Suka membuat harga yang dijual seenaknya tanpa kompromi.
Sehingga pengunjung merasa selalu was-was jika sedang berada di tempat
wisata itu…
HARUS ADA PERUBAHAN
Jika kawasan wisata itu ingin terus berkembang (tidak mati suri) dan
semakin banyak dikunjungi para Turis. Bersikap ramah, sopan dan juga
membuat harga yang masuk diakal agar informasi dari mulut ke mulut
tentang keindahan dan keramahan penduduk setempat itu nyampe
kemana-mana… jangan sampai ada kalimat yang berbunyi,” hati-hati kalau
datang ke situ….suka memalak dan makanan suka buat harga asal-asalan..”
So, saatnya ada perubahan di kawasan indah itu..!! karena INDAH SAJA
TIDAK CUKUP!!! JIKA TIDAK DIBARENGI DENGAN KERAMAHAN. KENYAMANAN DAN
FEEL LIKE HOME jika sedang berada disitu….